1.Melankoli Kedai Kopi
PERREMPUAN itu melirik
arlojinya.Mengaduk-aduk kopi hitam dalam cangkir.Ia mengambil gula, tapi
dikembalikan lagi.Menyeruput sedikit ,lalu diletakkan kembali.Ia
mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya,kemudian mengeluarkan pensil dan buku
kecil berwarna merah.Menulis barisan kata-kata.Kalimat-kalimat.mencoret
semuanya. Menulis lagi.Menyeruput kopi lagi.Mencoret satu baris.Menulis
lagi.Berkali-kali.
Perempuan itu menyalakan sebatang rokok dan
menghisapnya.Melirik arlojinya lagi.Lalu menatap ke kiri ke luar jendela.Ke
arah barisan hujan.Barisan lampu jalan.Barisan mobil.Barisan motor.Barisan
Klakson.Ada yang mengambang pada pandangannya yang kosong.Penuh,penuh sekali.
“Bisa dibuat lebih kental dari yang tadi?” Ia memesan secangkir kopi
lagi.Lelaki itu sudah pergi sejak tadi.Meninggalkan sehelai saputangan dan
seperempat cangkir cappuccino. Perempuan
itu menunggu cukup lama untuk sebuah pertemuan singkat.
”Jangan dulu diangkat,”katanya
sambil menggengam ujung saputangan. ”Nanti saja,setelah saya pulang,” Ia
menghisap rokoknya sekali. Lalu menulis lagi.
Mungkin sebaiknya lagu
dikedai ini saya ganti.Tapi,ia terlihat baik-baik saja.Kadang Kesedihan memang perlu
dinikmati,pikir saya.Saya melihat matanya.masih ada yang mengambang di sana. Sedikit
, sedikit sekali. Tapi,tak sepenuhnya pergi.
Perempuan itu menutup
bukunya,lalu melirik arlojinya. Barangkali tulisannya sudah selesai. Ia mengamati
panjang. Semua orang sudah pulang. Saya juga harus pulang. Tampaknya ia mengerti. Ia berdiri,
membayar, lalu berjalan keluar. Bukunya tertinggal. Saya memanggil-manggil,tapi
ia tak mendengar. Atau pura-pura tak mendenggar.
Lagu di kedai ini masih
sesedih yang tadi. Perempuan itu menyisakan setengah cangkir kopi. Entah kenapa
saya begitu ingin mencicipi.
2.Percakapan Lampu Merah
DI LUAR, hujan turun dengan ukuran tanggung. Seperti sepasang kesedihan,
tapi yang terisak, bukan meraung. Sederas hujan yang tak berhenti turun di
dalam kepala, sampai kami menjadi dua orang yang mencintai,namun sakit karena
cuaca.
Aku punya janji menemui pacarku
di sebuah kedai kopi. Tapi,pesan singkat yang baru kuterima membuatku tak ingin
kesan lagi
Tapi aku masih menginginkan kita.
Kuketik pesan itu di sebuah
lampu merah berdurasi dua ratus detik. Mengecek balasan darinya dengan tak
sabar setiap sepuluh detik. Mematikan radio yang berisik. Kenapa semua lagu
jadi menganggu saat kau sedang cemburu?
Aku pun begitu. Tapi, sekarang kau sudah
punya perempuan itu. Perempuan yang harus kaujaga baik baik.
Dadaku jadi sakit. Lampu berubah hijau.
Lalu hijau juga pada perempatan berikutnya, dan berikutnya lagi. Lampu-lampu
ini memang tak pernah merah saat dibutuhkan. Aku merasa tengah melawan doa
semua orang di sekitarku yang ingin segera pulang.
Pukul sebegini kau pasti sedang dijalan. Sudah
berapa kali kubilang, jangan gunakan ponselmu di lampu merah?
Aku tak peduli.
Kupikir aku cukup mencintainya.
Kupikir , akhirnya aku bisa melupakanmu. Ternyata tidak
Kuhentikan mobil pada lampu
merah yang lain.
Hening. Aku butuh jawaban darinya sekarang juga. Dia yang kubutuhkan, bukan
siapa pun. Ini harus dihentikan sebelum menjadi semakin rumit. Tepatnya ,
sebelum dia memutuskan menerima lelaki itu dan aku benar-benar terlambat.
Selesaikan dulu, baru kita bicara lagi. Tapi, aku tak bisa menjanjikan
apa-apa. Tentukan pilihanmu. Aku pun harus memilih.
Lagi pula, kau harus
ingat, kita tak pernah bisa berhenti bertengkar.
Aku terdiam. Dia benar—Kami
memang terus bertengkar. Kepala kami selalu penuh hujan. Aku harus menentukan pilihan. Sayangnya,
terkadang pilihan mana pun dapat membawa kita pada kehilangan.
Aku tak tahu kehilangan mana
yang akan membuatku menyesal.
Di luar, hujan masih turun
meski tipis. Lampu merah sudah habis. Kujalankan mobilku perlahan. Beruntung sekali
orang-orang yang tahu ke mana mereka ingin segera pulang.
3.Lelaki yang Membawa Hujan
”AKU mengenalmu sebagai lelaki yang membawa hujan.
Kita berkenalan di kotamu
yang romantis pada sebuah gerimis. Selanjutnya, jalanan selalu basah setiap
kita berkencan. Kadang gerimis, kadang deras, kadang sedang-sedang—bahkan saat harusnya
kemarau masih panjang.
Sejak itu, hujan semakin
sering membuatku tersenyum. Sederhana saja, hujan selalu mengingatkan aku pada kita. Pada aku yang lebih suka
berjalan pelan-pelan dan kau yang tak sabaran. Pada pelukanmu saat aku
menggigil kedinginan. Pada ciuman-ciuman yang kita curi diam-diam. Di dalam
kamar, di tepi jalan, di tengah taman. Kau membuatku menyukai langit mendung,
sebab itu berarti hujan akan segera turun.
Kecuali mendung dimatamu. Mendung
yang, kemudian kusadari, tak pernah pergi dari situ. Kau selalu menatapku
dalam-dalam dengan tatapan yang sama:membuata geli di perut tapi dingin di
dada. Di sana aku melihat langit berwarna abu-abu tua. Aku tak pernah bisa
mengartikannya dan tak pernah ingin bertanya.
Aku jadi membayangkan
kepalamu sebagai sebuah kota yang selalu
hujan. Senyummu kehujanan. Tawamu juga kehujanan. Itu membuatku sedih, juga
membuatku penasaran. Aku ingin tahu siapa yang menurunkan hujan
dikepala-mu,lalu membuatnya reda.
Tapi,malam ini akhirnya aku
tahu. Dialah yang membuat tatapanmu selalu mendung dan hujan tak pernah
berhenti; di kepalamu, lalu di sekitarmu. Siapa dia? Tanyaku. Kau bilang, dia
pernah ada, jauh sebelum kita bertemu.
Mungkin hujan yang sama juga
turun di kepalanya, katamu. Lalu,kaubilang semua hujan suatu saat akan
berhenti. Kau hanya diam, kemudian tersenyum. Senyum yang hujan, deras sekali.
Malam ini aku membiarkanmu
pergi. Sebab, katamu, mungkin kau memang tak ingin hujan berhenti.”
Pengarang : Disa tannos @jemarimenari
No comments:
Post a Comment