Dahulu memang kota ini tak seramai ini atau mungkin jauh lebih tenang apapun fredi katakan tetap saja begitu selalu saja salah,mungkin apa yang saya barusan tulis tentu sangat jauh berbeda antara satu kalimat dengan yang lain.cobalah sejenak,duduk lepas penatmu atau mungkin lupakan walau sejenak.Andai itu mudah.seperti saat di awal pertemuan kita bersebrangan ruang kelas,itu awal yang mudah kupikir lebih mudah dibandingkan membalikan telapak tanganku sendiri.Apapun tentangmu awalnya itu sangat remeh didalam mataku,baju itu sepatu hitammu,kuncir merah itu,ya masih kuingat sangat jelas.Tak terasa perasaan ini masih saja tumbuh subur dan mengeliat di dadaku.Tak sepantasnya kuceritakan dimalam itu,di taman tengah kota berjejerkan rimbun perdu malam,bangku pun pasti berpikir sama ketika kata-kata itu tak pantas untuk keluar,dingin semakin dingin terjerembab sedetik kemudian tidak ada obrolan menyenangkan seperti sebelumnya.hanya ada kekecewaan yang tergores diwajahnya,"kenapa baru sekarang !"jawabnya kurasa malam itu tidak mendung tapi kenapa ada setetes air dipelupuk matanya pikirku,"kenapa kau menangis?" tetap kupalingkan wajahku menuju ketempat jauh dimatanya."aku pikir sejauh ini kumenunggumu ini tidak akan sia-sia,tapi apa ternyata itu semu bagiku",
"maafkan aku,hanya saja pikirku perasaan ini hanya sementara tapi,sungguh diluar kemampuanku ini sangat mengeliat di sini"kurenggut dadaku sendiri."sungguh ini terlambat bagiku untuk melepas lelaki lain untukmu","tak apalah hanya ini yang kubisa ungkapkan,kugengam tangannya dan kurapalkan apa yang pernah waktu bersama dahulu."TIGA ORANG,DUA DUNIA,SATU CINTA".waktuku sudah habis disini bahagia lah bersama manusia yang kau pilih,langit tiba-tiba berbentuk bulat dan wajahn
ku pun bersinar bak marmer,dan menembus bagaikan debu disapu hujan."selamat jalan aiko"